MANFAAT EKSKUL BAGI PESERTA DIDIK
Oleh : Sahat H Pakpahan, Spd
Pendidikan adalah memberikan kebebasan seseorang untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan potensi yang dimilki , sekolah adalah institusi formal bagi pelaksanan pendidikan, dan guru mempunyai peran untuk membimbing peserta didiknya untuk mengenal dirinya sebagai manusia sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para siswa. Untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri para peserta didik, saya pikir tidak cukup hanya pada jam pelajaran sekolah saja.
Kita ketahui bahwa waktu peserta didik dalam mengikuti proses belajar-mengajar di kelas dalam satu hari sekitar 7 sampai 8 jam pelajaran, dimana satu jam pelajaran itu intervalnya sekitar 40 - 45 menit, Setelah itu pulang. Dan bukan sedikit para siswa yang menghabiskan waktunya percuma tanpa kegiatan positif setelah jam sekolah usai.
Waktu adalah uang dan waktu tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu alangkah baiknya jika setiap waktu luang yang ada dimanfaatkan dengan aneka kegiatan yang positif.
Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan aneka kegiatan ekstra kurikuler (biasa disingkat ekskul) yang bermanfaat serta tentu saja berguna bagi masa depan anak didik.
Banyak hal yang bisa dipelajari para siswa dari kegiatan ekstra kurikuler sekolah, antara lain :
-Aneka ilmu yang bermanfaat. Dalam setiap kegiatan ekstra kurikuler yang dipilih tentu ada dasar-dasar ilmunya. Sebut saja Fisika, matematika atau bahasa inggris dimana para siswa dapat mempelajari tata bahasanya secara baik dan benar.
-Dibawah bimbingan guru yang tepat, kegiatan ekstra kurikuler bisa menjadi wadah yang tepat bagi para siswa dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya, sebagai contoh membentuk band sekolah, dengan demikian bakat mereka tidak terpendam.
-Melalui ekskul para siswa bisa memupuk jiwa sportif dalam aneka perlombaan (misal: bola basket atau futsal)-baik yang digelar secara internal disekolah maupun eksternal dengan sekolah lain.
-Ekstra kurikuler juga bisa mengajarkan anak akan arti organisasi, walaupun dalam skala yang kecil. Disana anak bisa belajar menjadi pemimpin, pengurus, atau bahkan belajar mengemas suatu acara yang menarik dalam sebuah pameran ekskul.
-Dengan mengikuti ekskul juga jiwa nasionalisme para siswa semakin kuat, sebagai contoh paskibra, dengan mengikuti paskibra mereka akan belajar kedisiplinan, kekompakan-dalam hal baris-berbaris-dan akhirnya meraka mengerti apa itu dipimpin, terpimpin sehingga menjadi pemimpin.
Dan banyak lagi hal positif yang dapat diperoleh siswa dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.
Mengingat banyaknya hal positif yang bisa didapat dari ekskul, oleh karena itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari pihak sekolah baik itu pimpinan perguruan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah terkhusus yang membidangi kesiswaan dan para guru umtuk mendorong para siswa guna mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.
Bagi sekolah yang belum punya program kegiatan ekskul, mulai sekarang sudah bisa dipikirkan konsepnya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Selain dapat membawa nama baik sekolah, ekskul di sekolah juga dapat menyelamatkan para siswa dari lingkungan luar yang semakin carut-marut ini.
Peran orangtua juga sangat dibutuhkan untuk mendorong anak-anak mereka mengikuti ekskul ini. Jangan biarkan masa muda mereka tidak diisi dengan hal-hal yang positif yang justru membawa mereka dapat mengenal diri dan mengembangkan potensi diri .
Akhirnya jangan pernah ragu mendorong mereka mengikuti kegiatan ekskul.
sumber : http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3579:guru-menulis-manfaat-ekskul-bagi-peserta-didik&catid=56:edukasi&Itemid=63
oleh : Sahat H Pakpahan, Spd
Selasa, 26 Mei 2009
MANFAAT EKSKUL BAGI PESERTA DIDIK
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.54 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Mengenali Tingkah Laku Peserta Didik di Sekolah
Mengenali Tingkah Laku Peserta Didik di Sekolah
oleh: Adolf Bramandita
Sebuah keluarga terheran-heran, dengan perilaku anaknya di sekolah. Mengapa? Keluarga ini menyampaikan bahwa selama ini anaknya apabila di rumah menunjukkan sikap yang penurut dan baik. Kemudian yang perlu diamati, kenapa di sekolah menjadi berubah 100%? Hal ini yang terkadang membuat orang tua merasa tertipu oleh tingkah laku anaknya, yang kebetulan jika dibandingkan di rumah dan di sekolah. Apa sebab?
Orang tua sudah bisa dipastikan memasrahkan anaknya untuk dididik di sekolah, bisa jadi orang tua tinggal menunggu hasil dari proses pendidikan tersebut. Namun terjadi ketidakselarasan sikap peserta didik dalam bertingkah laku baik rumah ataupun di sekolah. Ini yang perlu kita amati. Peserta didik yang seperti ini perlu pendampingan khusus dan diperhatikan secara intensif dengan melihat proses terbentuknya sikap yang terkadang menjadi pengganggu di sekolah namun di saat yang sama menunjukkan sikap yang baik di rumah.
Perilaku siswa yang cenderung tidak stabil ini bisa disebabkan oleh Pertama, pengaruh dari lingkungan keluarga yang merasa tidak diperhatikan, artinya orang tua sibuk dengan urusannya sehingga tidak mengikuti perkembangan si anak. Ada kemungkinan terjadinya konflik di dalam keluarga yang membuat si anak tidak ada pegangan hidup. Sehingga si anak merasa ditinggalkan dan kesepian di dalam dunianya. Maka dari itu si anak butuh perlindungan dan perhatian, namun kondisi ini mengarahkan si anak untuk lari dari realitas. Ada kemungkinan akan membentuk pribadi si anak untuk mencari perhatian di luar rumah (sekolah) dan juga di tengah lingkungan teman-temannya.
Kedua, lingkungan di luar keluarga. Bisa jadi di sekitar rumah. Lingkungan di luar keluarga ini akan memberikan tawaran yang membuat si anak merasa diterima. Tawaran ini biasanya berupa pengakuan diri di tengah teman-temannya. Ada kesan gengsi apabila tidak mengikuti keinginan tersebut. Pengakuan diri ini muncul di masa perkembangan anak memasuki dunia remaja. Dunia remaja ini sangat manusiawi selama tidak mengarah pada hal yang negatif dan menghancurkan hidup si anak.
Hampir setengah hari dari kehidupan si anak dihabiskan di sekolah, untuk itu pengawasan bertumpu pada peran guru. Tetapi bukan berarti orang tua lepas tangan dengan perkembangan si anak. Karena setelah pulang ke rumah tentunya porsi pengawasan orang tua jauh lebih besar dibanding guru di sekolah. Saat di sekolah inilah guru menjadi semacam orang tua kedua bagi peserta didik. Segala keluh kesah dan permasalahan akan ditumpahkan kepada guru tertentu. Ini terjadi apabila guru membuka diri dengan posisinya terhadap peserta didik. Membuka diri artinya tidak membuat jarak kepada peserta didik untuk menjadi teman atau sekedar sahabat dalam berbagi pengalaman.
Pengalaman ini saya dapat sewaktu mengajar di kawasan Indonesia bagian timur. Kedekatan antara siswa dan guru menjadikan peserta didik merasa diperhatikan dan dimengerti pola perkembangannya. Kedekatan ini bisa menjadi sarana untuk mengenal lebih jauh peserta didik secara pribadi maupun dalam hal perkembangan pendidikannya. Guru seharusnya juga punya misi untuk lebih mengedepankan proses pendampingan agar lebih tercapainya peran pendidikan yang sebenarnya. Apalagi ada kecenderungan orang tua yang sangat percaya dengan pendidikan di sebuah institusi tertentu. Yaitu membentuk karakter peserta didik dan mengarahkannya dalam menemukan tujuan hidupnya.
Dengan model pendidikan karakter ini peserta didik diajak untuk berani mengambil keputusan dalam hidupnya. Membentuk sikap yang memiliki daya juang dalam hidup serta tidak mudah patah semangat. Mengenali sikap perilaku peserta didik yang cenderung menyendiri, pengganggu dan ataupun perilaku yang mengarah ke negatif, perlu pendekatan khusus agar lebih dipahami pola-pola yang muncul dalam kesehariannya. Setelah mengetahui sebab akibatnya, lalu guru memberi kesadaran pada peserta didik untuk menyikapinya lebih dewasa. Pendampingan dan pendekatan ini tidak secara instan akan mendapatkan hasil, perlu proses panjang dan berkelanjutan agar sesuai dengan misi sebuah institusi pendidikan. Lebih penting dari pada itu adalah bagaimana guru mempunyai jiwa/roh sebagai pendidik di tengah-tengah peserta didik.
sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=13525
oleh : Adolf Bramandita
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.52 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Perlunya Pembekalan Kecakapan Hidup bagi Peserta Didik
Perlunya Pembekalan Kecakapan Hidup bagi Peserta Didik
Rubrik Khusus 21-10-2008
*hasan basri
MESKI pemerintah sejak beberapa tahun lalu telah mencanangkan program wajib belajar (WAJAR) 9 tahun, tetapi tidak dapat dipungkiri hingga kini masih banyak anak usia sekolah yang tidak bersekolah, atau terpaksa putus sekolah karena persoalan ekonomi keluarga akibat mahalnya biaya pendidikan.
Di sisi lain, lembaga pendidikan di Indonesia terutama pada tingkat SLTP dan SLTA bahkan juga perguruan tinggi, juga tidak memiliki kurikulum yang secara spesifik bisa memberikan kecakapan hidup bagi para siswa baik dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang begitu ketat dewasa ini, terlebih lagi kecakapan untuk bisa membuka usaha atau lapangan kerja sendiri.
Agaknya, ada hal yang perlu dibenahi dan disempurnakan dalam sistem pendidikan di negeri ini. Pasalnya, lembaga pendidikan merupakan lembaga yang sangat berperan dalam penciptaan sumber daya manusia yang handal agar mampu menggerakkan kekuatan ekonomi baik lokal maupun nasional yang kini telah begitu kompetitif di arena persaingan global.
Agaknya hal ini sangat disadari oleh pimpinan Pesanteran Al Amin yang berlokasi di Jalan Sunda, Gg Bilal, Kelurahan Bakaran Batu, Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang, yang juga membuka program pendidikan Paket B bagi siswa/i kurang mampu atau sempat mengalami putus sekolah.
Al Ustad Ruben SPdi, selaku pengelola program Paket B Pondok Pesantren Al Amin menyatakan, masalah pengangguran dan kemiskinan di masyarakat harus diperangi. Salah satu caranya adalah dengan mempersiapkan para peserta didik sejak dini agar memiliki jiwa dan karakter budaya kewirausaan. “Karenanya selain membekali peserta didik dengan berbagai teori-teori, lembaga pendidikan juga sangat perlu membekali ilmu-ilmu praktis untuk kecakapan hidup para peserta didik melalui pelatihan-pelatihan pengembangan kewirausaan,” kata Ustaz Ruben kepada MedanBisnis minggu lalu saat mengawasi pelatihan kecakapan hidup berupa pengembangan percetakan dan sablon para siswa program Paket B di ruang praktik sekolah itu.
Disebutkannya, pelatihan ini dilakukan atas kerja sama Pesantren Al-Amin dengan lembaga NGO USAID-DBE 3 Propinsi Sumatera Utara. “Pelatihan ini merupakan bantuan hibah dari USAID-DBE 3. Peserta pelatihan merupakan siswa Paket B yang terdiri dari 9 perempuan dan 3 siswa laki-laki. Dipilihnya pelatihan kecakapan hidup percetakan dan sablon ini sendiri merupakan hasil diskusi antara siswa, tutor dan pengelola Paket B,” ujar Ruben yang juga salah seorang muballig di Lubuk Pakam.
Distrik Officer DBE 3 Sumatera Utara, Muhammad Ikhyar Harahap, saat ditemui di lokasi pelatihan menyatakan, bantuan hibah program Usaid-DBE 3 diberikan kepada mitra mereka untuk mendukung program yang sudah disepakati (MoU). Bantuan yang diberikan bisa berbentuk barang maupun jasa dan tidak berupa bantuan uang tunai. “Saat ini Usaid-DBE 3 memiliki 15 mitra di lima kabupaten/kota yaitu Binjai, Deliserdang, Tebingtinggi, Sibolga dan Tapanuli Utara yang masuk dalam Cohort 1 yang mendapat bantuan hibah Non Cash Grant. Sedang untuk Cohort 2, meliputi Tanjungbalai, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara dan Dairi proses program hibah Non Cash Grant sedang dalam tahapan MoU.
Lebih lanjut Ikhyar yang juga mantan aktivis mahasiswa 98 ini menyebutkan, tujuan dari program hibah non kas kepada mitra DBE3 adalah untuk membantu mitra dalam penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup bagi remaja, melatih mitra membangun keterampilan membuat proposal yang baik, dan menyelenggarakan program secara efektif. Ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mitra untuk menjalin kemitraan-kemitraan lain (misalnya dengan sektor swasta, individu, dan sekolah formal) untuk melanggengkan program-program kecakapan hidup bagi remaja.
Ikhyar mengetengahkan, prinsip dasar pengembangan kecakapan hidup bagi remaja ini intinya adalah pengembangan manajemen kewirausaan bagi remaja agar nantinya mereka memiliki kecakapan dalam menghadapi dunia kerja atau malah mampu untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
“Entrepreneurship membutuhkan aktualisasi sikap yang ditopang pengetahuan, keterampilan, dan keahlian. Ini berarti sifat kompetisi yang kreatif dalam membangun suatu usaha dan bisnis haruslah melalui inovasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, memperluas jaringan usaha, dan kecerdasan kreatif,” tegasnya.
Untuk itulah, katanya, DBE 3 terus mendukung gerakan penciptaan kecakapan hidup bagi remaja terutama melalui pendidikan dan pelatihan serta bimbingan teknis bagi para peserta didik yang mengikuti program Paket B di sekolah-sekolah maupun lembaga-lembaga pendidikan informal mitra USAID-DBE 3.
sumber : http://www.medanbisnisonline.com/2008/10/21/perlunya-pembekalan-kecakapan-hidup-bagi-peserta-didik/
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.50 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Melatih Anak Bersikap Toleran Lewat Sosiodrama
Melatih Anak Bersikap Toleran Lewat Sosiodrama
Oleh arixs
“Praktiknya harus disesuaikan dengan pertumbuhan fisik maupun psikologis mereka,” ujar praktisi pendidikan anak Hanny Iriany Agustien, S.Pd.
Guru TK Saraswati 2 Denpasar ini menekankan, pendidikan anak TK yang termasuk pendidikan anak usia dini (PAUD) memerlukan kesiapan diri si anak. Proses belajar tak hanya melulu menekankan aspek fisik semata, tetapi pengembangan aspek psikis pun harus berjalan seimbang.
”Secara psikis, proses belajarnya harus sesuai dengan tahapan perkembangan mental anak. Motivasi belajar harus bertumbuhkembang dari dalam diri anak sendiri,” katanya.
Untuk menumbuhkembangkan motivasi tersebut, kalangan pendidik maupun orangtua mesti memahami pola didik dasar yang cocok untuk anak usia dini. Pola didik tersebut bertumpu pada dunia bermain.
“Bermain sepanjang hari merupakan aktivitas favorit anak. Tanpa disadari berkat aktivitas bermainnya kelak potensi kreatif anak berkembang,” kata guru yang berprestasi di bidang seni melukis ini.
Permainan dalam dunia anak merupakan proses belajar. Itu berarti, keseharian bermain otomatis mencerminkan proses belajar mereka. Anak usia TK khususnya sedang berada dalam tahapan praoperasional kongkret, yaitu tahapan persiapan proses pengorganisasian pekerjaan yang kongkret.
Masa ini pun menjadi tahapan melatih proses berpikir intuitif , yaitu anak dilatih untuk mencerna aspek ukuran besar kecil, bentuk dan hubungan benda satu dan lainnya.
”Ini didasarkan pada interpretasi dan pengalamannya selama belajar dalam suasana bermain tadi,” jelas alumnus Jurusan Psikologi Anak Bimbingan Konseling IKIP PGRI Denpasar ini.
Belajar dalam suasana bermain akan memudahkan anak memahami materi pelajaran ketimbang proses belajar formal yang serius. Anak akan mudah merekam apa pun yang sedang ditekuninya selama proses belajar berlangsung.
”Ini bahkan sebenarnya bukan hanya akan menumbuhkembangan aspek fisik, intelektual, dan emosi anak belaka, juga aspek sosialnya,” jelas narasumber pola pengasuhan anak dalam berbagai seminar pendidikan anak usia dini ini.
Proses belajar semacam itu akan menghasilkan kemampuan sosok anak didik yang berbeda dengan pola ceramah. Dalam pola ini anak hanya menjadi pendengar apa yang diajarkan gurunya. Ini membuat anak sukar menerima dan memahami hal-hal baru. Ini lebih parah lagi jika anak diposisikan sebagai objek dalam proses belajarnya.
Proses pendidikan usia dini dianjurkan lebih mempertimbangkan sistem student based learning. Anak diarahkan agar mengisi kesibukan dalam proses belajar, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator saja.
Namun, guru harus dibekali dengan kemampuan kreatif dan inovatif dalam mengarahkan, membimbing kegiatan si anak selama belajar. “Ini agar anak mau menikmati proses belajar dalam suasana hati yang menyenangkan,” tukas Guru Berprestasi se-Denpasar Timur Tahun 2007 ini.
Dalam proses bermain, menurut Hanny, setidaknya ada kandungan nilai pendidikan yang dapat diserap anak didik. Nilai pendidikan tersebut dikembangkan melalui aktivitas yang dapat memberikan pemahaman (kognitif), dapat melatih anak memerankan suatu kegiatan (seni), serta melatih anak bersikap jujur, toleran, tekun, dan lain-lain sebagai sebuah upaya pembiasaan.
Hanny menekankan, sosiodrama merupakan proses pembelajarn dalam bentuk permainan yang disesuaikan dengan dunia anak seusianya, yaitu pemaparan dan pemetaan pikiran anak (mind map drawing).
Setiap anak diberikan peran masing-masing sekaligus tugas yang diarahkan agar dapat diselesaikannya dalam suasana bermain.
“Melalui peran yang dilakoninya si anak mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru tanpa mereka sadari itu sebelumnya sebagai tugas belajar. Imajinasi anak akan berkembang secara spontan tanpa kelewat banyak diatur-atur menurut selera gurunya.
Guru hanya menjelaskan cara bermain dan menetapkan peran masing-masing anak. Permainan harus dilakoni anak dalam suasana gembira dan semangat yang tinggi. Namun, guru harus memahami suasana hati anak saat itu. Jika anak mulai tampak bosan sebaiknya segera diakhiri agar anak tak kecewa lantaran dipaksa terus bermain,” paparnya. —sam
sumber : http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=3833
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.49 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Peran Guru Dalam Administrasi Kesiswaan
Peran Guru Dalam Administrasi Kesiswaan
Siswa merupakan salah satu sub-sistem yang penting dalam sistem pengelolaan pendidikan di sekolah menengah. Administrasi kesiswaan dilakukan agar transformasi siswa menjadi lulusan yang dikehendaki oleh tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Administrasi kesiswaan merupakan proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan penerimaan siswa, pembinaan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menamatkan pendidikannya melalui penciptaan suasana yang kondusif terhadap berlangsungnya proses belajar-mengajar yang efektif.
Tugas kepala sekolah dan para guru dalam hal ini adalah memberikan layanan kepada siswa, dengan memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Keterlibatan guru dalam administrasi kesiswaan tidak sebanyak keterlibatannya dalam mengajar. Dalam administrasi kesiswaan guru lebih banyak berperan secara tidak langsung.
Beberapa peranan guru dalam administrasi kesiswaan itu di antaranya adalah:
a) Dalam penerimaan siswa, para guru dapat dilibatkan untuk ambil bagian. Di antara mereka dapat ditunjuk menjadi panitia penerimaan yang dapat melaksanakan tugas-tugas teknis mulai dari pencatatan penerimaan sampai dengan pelaporan pelaksanaan tugas.
b) Dalam masa orientasi, tugas guru adalah membuat agar para siswa cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya. Peranan guru dalam hal ini sangat penting, karena andaikata terjadi salah langkah pada saat pertama, dapat berakibat kurang menguntungkan bagi jiwa anak untuk waktu-waktu selanjutnya.
c) Untuk pengaturan kehadiran siswa di kelas, guru mempunyai andil yang besar juga. Guru diharapkan mampu mencatat/ merekam kehadiran ini meskipun dengan sederhana akan tetapi harus baik. Data kehadiran ini dimungkinkan untuk bahan
pertimbangan penilaian terhadap siswa, misalnya sebagai pertimbangan dalam menetapkan kenaikan kelas.
d) Dalam memotivasi siswa untuk senantiasi berprestasi tinggi, guru juga harus mampu menciptakan suasana yang mendukung hal tersebut. Hal ini dapat mereka lakukan misalnya dengan membuat grafik prestasi belajar siswa-siswanya.
a. Kegiatan dalam Administrasi Kesiswaan
Kegiatan dalam administrasi kesiswaan dapat dipilih menjadi tiga bagian besar, yaitu kegiatan penerimaan siswa, pembinaan siswa, dan penamatan program siswa di sekolah.
1. Penerimaan Siswa
Penerimaan siswa adalah proses pencatatan dan layanan kepada siswa yang baru masuk sekolah, setelah mereka memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh sekolah itu.
2. Pembinaan Siswa
Yang dimaksud dengan pembinaan siswa adalah pemberian layanan kepada siswa di suatu lembaga pendidikan, baik di dalam maupun di luar jam belajarnya di kelas. Pembinaan kepada siswa dilakukan dengan menciptakan kondisi atau membuat siswa sadar akan tugas-tugas belajarnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan siswa ini adalah: (1) memberikan orientasi kepada siswa baru, (2) mengatur dan atau mencatat kehadiran siswa, (3) mencatat prestasi dan kegiatan siswa, dan (4) mengatur disiplin siswa di sekolah.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan siswa ini adalah:
1) Orientasi siswa baru
2) Pengaturan kehadiran siswa. Beberapa alat yang dapat digunakan untuk melakukan pencatatan kehadiran siswa ini di antaranya adalah:
a) Papan absensi harian siswa (per kelas dan per sekolah)
b) Buku absensi harian siswa
c) Rekapitulasi absensi siswa.
3) Pencatatan siswa di kelas. Dalam rangka pembinaan siswa perlu juga dilakukan pencatatan di kelas. Pencatatan itu dapat berupa: (a) daftar siswa di kelas, (b) grafik prestasi belajar, dan (c) daftar kegiatan siswa
4) Pembinaan disiplin siswa. Disiplin merupakan suatu keadaan di mana sikap, penampilan, dan tingkah laku siswa sesuai dengan tatanan nilai, norma, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah dan/kelas di mana mereka berada.
5) Tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah merupakan salah satu alat yang dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk melatih siswa agar dapat mempraktekkan disiplin di sekolah. Disiplin sekolah dapat diberikan antara lain melalui ganjaran dan hukuman. Ganjaran adalah sesuatu yang bersifat menyenangkan yang diterima siswa karena berprestasi, berusaha dengan balk atau bertingkah laku yang dapat dijadikan contoh bagi yang lam. sedangkan hukuman adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang harus diterima atau dikerjakan siswa karena mereka bertingkah laku yang tidak pada tempatnya (Carolyn, 1984). Kalau ganjaran diberikan untuk membuat siswa melakukan hal yang positif, maka hukuman diberikan dengan maksud agar siswa jera atau tidak ingin berbuat lagi hal-hal yang negatif. Hukuman diberikan kepada siswa dalam batas-batas yang wajar, sehingga misi mendidik siswa tercapai.
6) Promosi dan mutasi. Promosi atau kenaikan kelas adalah perpindahan siswa dari suatu kelas ke kelas lainnya yang lebih tinggi setelah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Promosi/ kenaikan kelas dilaksanakan dengan berpedoman kepada norma-norma kenaikan kelas yang ditetapkan bersama antara semua guru dan kepala sekolah dalam rapat kenaikan kelas. Keputusan kenaikan kelas ini hendaknya diambil dari landasan yang mewakili sosok siswa secara utuh, baik ditinjau dari ranah kognitif, afektif, maupun psikomotornya. Premosi harus dilaksanakan dengan sangat hati-hati dalam arti harus dipertimbangkan beberapa prinsip dasar yang periling, yaitu bahwa:
1) Promosi harus dilaksanakan atas dasar pertimbangan keadaan siswa secara pribadi.
2) Promosi harus mempertimbangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang dicapai oleh siswa.
3) Promosi harus mempertimbangkan laju perkembangan prestasi yang dicapai siswa.
4) Promosi harus mempertimbangkan mata pelajaran-mata pelajaran yang akan ditempuh siswa di kelas yang lebih tinggi.
Mutasi merupakan perpindahan siswa dari satu sekolah ke sekolah lainnya karena alasan-alasan tertentu. Mutasi adalah hak setiap siswa, oleh karena itu sekolah harus dapat memberi kesempatan kepada siswanya yang akan menggunakan haknya itu. Mutasi harus dilakukan melalui prosedur tertentu dan dicatat oleh kedua sekolah, sekolah asal dan sekolah tujuan.
3. Tamat Belajar
Apabila siswa telah menamatkan (selesai dan lulus) semua mata pelajaran atau telah menempuh kurikulum sekolah dengan memuaskan, maka siswa berhak mendapatkan surat tanda tamat belajar dari kepala sekolah. Dalam hal yang demikian, siswa sudah tidak mempunyai hak lagi untuk tetap tinggal di sekolah yang bersangkutan karena dianggap telah menguasai semua mata pelajaran atau kurikulum sekolah.
Tamat belajar untuk sekolah menengah, pada dasarnya merupakan pencapaian salah satu tangga untuk pendidikan lebih lanjut, atau pencapaian suatu keterampilan yang dapat dipergunakan untuk menopang kehidupannya di masyarakat.
•
e) Dalam menciptakan disiplin sekolah atau kelas yang baik, peranan guru sangat penting karena guru dapat menjadi model. Untuk membuat siswa mempunyai disiplin yang tinggi, maka guru harus mampu menjadi contoh atau panutan bagi siswa- siswanya. Guru juga harus mampu menegakkan disiplin dan tidak merusaknya sendiri. Di samping itu guru juga harus mampu mengambil keputusan secara bijaksana dan konsisten untuk memberikan ganjaran dan hukuman kepada para siswa yang pantas mendapatkannya.
sumber : http://chrisna.blogdetik.com/2008/10/09/peran-guru-dalam-administrasi-kesiswaan/
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.48 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Sudah Kelas Tiga Tak Bisa Baca
Sudah Kelas Tiga Tak Bisa Baca
Oleh Suherman
Guru SDN Sejati II Camplong, Sampang
SELAIN mengajar, guru bertugas menyelesaikan target materi dalam kurikulum setiap akhir semester atau setiap tahun. Namun, kenyataannya, masih terdapat ketidakseimbangan antara target kurikulum dengan daya serap yang dicapai peserta didik.
Salah satu ketidakberhasilan peserta didik dalam belajar-mengajar adalah kurangnya penguasaan membaca dan menulis. Tulisan ini khusus membicarakan kemampuan baca (membaca) yang meliputi kemampuan membaca lancar dan kemampuan membaca secara benar berdasar intonasi serta tanda baca. Berdasar gambaran tersebut, penulis ingin membahas cara mengatasi kesulitan membaca siswa kelas III atau IV sekolah dasar (SD).
Sepintas, pembaca akan tertegun dan bertanya-tanya mengapa siswa kelas III atau IV masih sulit membaca. Lalu, mengapa siswa tersebut bisa naik sampai kelas III atau IV, padahal tidak dapat/sulit membaca. Kalau para guru mengakui secara jujur, kenyataan yang ironis ini akan kita temui di sekolah Bapak-Ibu mengajar. Apa benar demikian?
Faktor-Faktor Penyebab
Upaya menemukan faktor penyebab kesulitan membaca siswa kelas III atau IV ini merupakan langkah awal cara mengatasi permasalahan. Bukan mencari kambing hitam. Faktor penyebab tersebut sangat kompleks dan sangat berpengaruh serta bisa ditinjau dari berbagai segi.
1. Faktor Peserta Didik.
Jika ada peserta didik yang gagal, biasanya guru akan memutuskan bahwa siswa tersebut bodoh, abnormal, atau bahkan idiot. Tuduhan itu sangat memojokkan peserta didik dan secara manusiawi kurang adil. Sebab, secara umum, kondisi peserta didik bisa kita lihat dari:
(a) Tingkat inteligensi peserta didik yang beraneka ragam, sehingga kemampuan menerima pelajaran dari guru juga beragam. Ada yang cepat, sedang, dan lambat dalam menerima.
(b) Peserta didik yang tidak sehat, baik secara jasmani maupun rohani seperti lemah, lekas lesu, pusing, sering mengantuk, dan cacat fisik merupakan faktor yang juga sangat berpengaruh.
(c) Minat atau usaha peserta didik dalam mengikuti pelajaran juga beragam. Ada yang giat belajar, seenaknya belajar, bahkan ada yang malas belajar.
(d) Kurang ada kesiapan peserta didik dalam memasuki jenjang SD dan mereka sulit beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
(e) Peserta didik bukan lulusan dari sekolah taman kanak-kanak.
2. Faktor Guru
Belum pernah ada anggapan yang mengatakan guru itu bodoh. Meski begitu, masih banyak guru yang belum melakukan fungsinya sebagai guru yang profesional. Masih banyak yang melalaikan tugas sebagai guru atau masih terdapat keadaan yang mengharuskan guru menyimpang dari aturan main dalam belajar mengajar.
Misalnya, (a) Cara penyajian pelajaran yang kurang menarik. Hal itu disebabkan tidak adanya persiapan guru dalam mengajar tertulis. Persiapan mereka cukup dalam kepala atau di angan-angan, sehingga tidak terarah dan sulit dimengerti peserta didik.
(b) Guru kurang mengenal siswa secara menyeluruh, sehingga tidak bisa membedakan antara siswa yang lemah dengan siswa yang pandai dalam menerima pelajaran.
(c) Pola hidup disiplin yang kurang diperhatikan. Misalnya, siswa sering terlambat atau sering tidak menyelesaikan tugas, tapi tidak mendapat teguran atau sanksi dari guru.
(d) Guru cenderung memberikan nilai yang tidak sesuai perolehan siswa yang sebenarnya, baik pada ulangan harian maupun ulangan semester. (e) Sering guru punya peran lain dalam organisasi atau kegiatan kemasyarakatan, sehingga otomatis menyita jam dinas. (f) Penyebaran guru tidak merata. Sebagian sekolah kelebihan guru dan masih banyak sekolah yang gurunya harus merangkap beberapa kelas.
3. Faktor Masyarakat
Media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan majalah berdampak positif dan negatif terhadap peserta didik. (b) Peran aktif orang tua siswa dan komite sekolah dalam memantau dan menilai kemajuan serta kekurangan sekolah masih jauh dari yang diharapkan. Orang tua siswa, terutama, sudah percaya sepenuhnya kepada guru. (c) Adanya aktivitas masyarakat sekitar yang sering mengganggu aktivitas belajar siswa.
4. Supervisi Kepala Sekolah
Kepala sekolah jarang, bahkan cenderung sama sekali, melakukan supervisi kelas terhadap guru yang mengajar atau terhadap tugas administrasi lain. Hal itu disebabkan oleh: (a) Kedekatan antara atasan dengan bawahan yang seperti hubungan keluarga. (b) Kepala sekolah terlalu percaya kepada bawahan dalam segala urusan. (c) Kemampuan kepala sekolah dalam hal supervisi masih diragukan atau takut memberikan jalan keluar bila ditemukan guru yang cara kerjanya kurang layak.
Cara Mengatasi Masalah
Bertitik tolak pada hal-hal tersebut, penulis mencoba mencari solusi bagi peserta didik kelas III atau IV melalui berbagai pendekatan. Yaitu:
Secara Preventif
Agar peserta didik kelas III atau IV bisa membaca secara baik, perlu diperhatikan hal berikut: (a) Guru kelas I atau II harus bisa mematangkan membaca permulaan dengan berbagai metode mengajar membaca. (b) Hati-hati terhadap siswa yang diduga mengalami kelainan. Kalau bisa, bawalah siswa tersebut ke tempat pemeriksaan khusus kelainan anak. Jika sudah tidak ada jalan terbaik, anjurkan orang tua siswa menyekolahkannya di SLB atau dididik secara khusus. Tapi, kalau siswa tersebut normal, guru harus mawas diri.
(c) Pembagian tugas mengajar kelas harus betul-betul sesuai kemampuan guru, khususnya guru kelas I harus guru yang bisa mengenal siswa secara keseluruhan dan mampu menerapkan berbagai metode membaca permulaan.
(d) Kepala sekolah secara aktif memantau perkembangan siswa kelas I dan mampu memberikan jalan keluar jika guru mengalami kesulitan. (Para guru menghidupkan perpustakaan sekolah dan memotivasi siswa agar membiasakan diri untuk membaca).
Secara Kuratif
Pendekatan secara kuratif ini terletak pada guru kelas III atau IV. Sebab, secara bersamaan, mereka harus menyelesaikan dua permasalahan. Yaitu, (a) Menyelesaikan target materi dalam kurikulum dengan daya serap yang seimbang. (b) Melancarkan cara membaca bagi peserta didik yang sulit membaca. Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebagai berikut:
(1) Pengorganisasian kelas secara kelompok dan anggota tiap-tiap kelompok disesuaikan dengan tingkat kemampuan. Hal itu memudahkan guru dalam mengawasi dan memberikan pelajaran tambahan yang sesuai tingkat kemampuan peserta didik. (2) Penyampaian materi pelajaran untuk seluruh kelompok dan khusus kelompok yang sulit membaca harus ditekankan pada aspek baca, baru pada penguasaan materi.
(3) Memfungsikan jam 00 (sebelum masuk) untuk melatih membaca pada peserta didik yang sulit membaca. (4) Memberikan bimbingan khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca pada jam istirahat atau pada jam aktif pelajaran dengan menugaskan guru khusus. (5) Memberikan tugas-tugas rumah dan memperlengkapi alat peraga individual yang berkaitan dengan kemampuan baca. (6) Mengadakan kunjungan rumah dan minta orang tua siswa agar membantu anaknya yang kesulitan membaca.
Kesimpulan
Guru harus berpegang teguh pada penyelesaian target, tapi tidak menelantarkan peserta didik yang mengalami kesulitan membaca.
Ada tiga kemungkinan yang bisa dilakukan. Yaitu: (1) Jika mengalami perubahan positif (bisa membaca secara lancar dan benar), anak itu dapat dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi. (2) Jika tidak mengalami perubahan (sulit membaca), anak tersebut harus tinggal kelas.
(3) Jika anak itu mengalami perubahan negatif (justru semakin sulit membaca), mereka harus tinggal kelas atau diturunkan ke kelas bawah dan dididik secara khusus. Bahkan, kalau memungkinkan, disalurkan ke SLB dengan catatan mereka masuk anak di bawah rata-rata (abnormal). (*)
Sumber: http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1201131042&archive=&start_from=&ucat=2&
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.46 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Membangun Berdasarkan Kekuatan Anak
Membangun Berdasarkan Kekuatan Anak
Sejak dini, anak kita perlu mendapatkan perhatian khusus sehingga apa yang menjadi kelemahan mereka, seperti takut dan kuatir, dapat sedikit demi sedikit bisa ditanggulangi. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah membangun kekuatan pada anak. Mengapa hal ini sangat penting?
Bayangkanlah sebuah atap dengan tiang penopang yang sudah busuk. Sekarang Anda memiliki dua pilihan.
1. Potonglah tiang itu untuk digantikan dengan yang baru dengan risiko atap itu akan jatuh ke atas Anda.
2. Atau memasang tiang yang baru dan kemudian memotong tiang yang lama.
Terus-menerus menyerang kelemahan anak mengandung risiko menghancurkan si anak. Membangun berdasarkan kekuatan si anak akan:
1. menolong anak untuk mengatasi kelemahannya;
2. menguatkan dan membesarkan hati si anak;
3. membangun kepercayaan antara Anda dan anak Anda;
4. mengajarkan kebenaran yang langsung kepada anak;
5. mengomunikasikan kasih dan kepedulian Anda;
6. membentuk karakter dalam diri anak Anda;
7. membawa pada pertumbuhan jangka panjang dan kematangan; serta
8. memerkuat hubungan Anda dengan anak Anda.
Pikirkanlah cara lainnya. Bila orang tua selalu memberitahu seorang anak apa yang harus dilakukan, mereka tidak akan pernah belajar apa yang harus dilakukan. Berfokus pada apa yang salah tidak mengajarkan apa yang benar. Bagaimana tanggapan anda?
http://klubguru.com/view.php?subaction=showfull&id=1201131042&archive=&start_from=&ucat=2&
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.43 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Senin, 25 Mei 2009
Pembelajaran Berbasis Peserta didik
http://gurupkn.wordpress.com/2008/04/24/pembelajaran-berbasis-peserta-didik/
Pembelajaran Berbasis Peserta didik
BANGSA ini telah menetapkan bahwa; “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara,” demikian terdapat pada pasal 1:1 UU RI No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Ia adalah pelanggan utama (main customer) mendapat pelayanan dalam proses pendidikan. Dengan perkataan lain proses pendidikan akan bermakna jika dilakukan oleh, dari, dan untuk peserta didik. Jika tidak maka telah terjadi kejahatan kemanusiaan di ruang-ruang kelas, demikian pernyataan keras dari direktur UNESCO.
Pendidikan berkualitas, ditentukan oleh banyak faktor yang saling terkait, yakni lingkungan fisik sekolah, kurikulum, kepemimpinan, organisasi dan budaya internal sekolah, penjaminan mutu, kemitraan antara orang tua, sekolah dan masyarakat, motivasi siswa, ketersediaan guru dan pengembangan profesionalisme, mekanisme pertanggungjawaban dan tata kelola sekolah yang efektif dan efesien. Namun faktor yang utama mewujudkan keberhasilan pembelajaran adalah faktor terselenggaraanya proses pembelajaran efektif berlandaskan karakteristik peserta didik yang dilaksanakan oleh guru profesional, bermartabat dan sejahtera. Seorang guru profesional selain harus memiliki penguasaan bahan ajar, penguasaan pembelajaran yang mendidik, dan pengembangan kepribadian/keprofesionalan secara berkelanjutan juga dicirikan dari kemampuannya memahami peserta didik, yakni; pemahaman yang mendalam tentang peserta didik, meliputi; (a) kemampuan mengindentifikasi potensi peserta didik yang perlu dikembangkan; (b) menguasai karakteristik potensi peserta didik; (c) memiliki komitmen terhadap hak dan kewajiban peserta didik; (d) mengenal dan memanfaatkan lingkungan peserta didik; (e) menguasai cara dan gaya belajar peserta didik; (f) bersikap dan berperilaku empati terhadap peserta didik; (g) membimbing dan mengembangkan karier peserta didik.
Fakta tentang pembelajaran yang kurang berbasis peserta didik dan berdampak pada ketidakefektifan pembelajaran, antara lain dialami oleh: “(1) Winston Churchill salah seorang pemimpin dan orator terbesar pada abad ke-20, ia memperoleh nilai buruk dalam tugas-tugasnya di sekolah dan gagap dalam berbicara; (2) Albert Einstein ilmuan terbesar pada zamanya, Ia gagal dalam pelajaran matematika di SMA; (3) Thomas Alva Edison dipukul di sekolahnya karena gurunya menganggap dia suka bingung, dan terlalu banyak bertanya; dan (4) Woodrow Wilson seorang Presiden Amerika Serikat belum bisa membaca hingga berusia sebelas tahun. Mereka punya persamaan perlakuan dalam pembelajaran, yakni menjalani proses pembelajaran yang tidak cocok dengan gaya belajarnya. Hampir semua murid berprestasi rendah adalah anak muda yang gaya belajarnya tidak cocok dengan gaya mengajar di sekolah. Penelitian menyimpulkan 93 persen dari seluruh pembelajaran terjadi di bawah sadar. Kunci menuju keberhasilan dalam belajar adalah mengetahui gaya belajar (visual, audio, dan kinestetik) yang unik dari setiap orang, menerima kekuatan sekaligus kelemahan diri sendiri, dan sebanyak mungkin menyesuaikan preferensi pribadi dalam setiap situasi pembelajaran individual”, demikian Barbara Prashning (2007) dalam bukunya “The Power of Learning Styles”.
Pakar pembelajaran sependapat, bahwa; “karakteristik peserta didik adalah satu variabel yang paling berpengaruh dalam pembelajaran. Model pembelajaran apapun yang dikembangkan dan/atau strategi apapun yang dipilih untuk keperluan pembelajaran haruslah berpijak pada karakteristik perseorangan dan/atau kelompok dari siapa yang belajar”, demikian Asri Budiningsih (2004) dalam bukunya “Pembelajaran Moral”.
Nyoman Sudana Degeng dan Yusufhadi Miarso (1993) dalam bukunya “Terapan Teori Kognitif dalam Disain Pembelajaran” mengatakan, “Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai aspek atau kualitas perseorangan peserta didik seperti bakat, motivasi belajar, dan kemampuan awal yang telah dipelajari dan dimilikinya dan berguna sebagai pijakan dalam pemilihan strategi pembelajaran yang optimal. Hal ini sangatlah penting dalam meningkatkan kebermaknaan pembelajaran yang selanjutnya membawa dampak dalam memudahkan proses internal yang berlangsung ketika peserta didik mengkonstruksi informasi yang disampaikan kepadanya”. Selanjutnya pembelajaran menjadi efektif, karena kemampuan awal atau kesiapan belajar tersebut, dan peserta didik bukan lagi ibarat botol kosong yang siap diisi oleh berbagai informasi, baik sengaja atau tersebunyi dari para pendidiknya, melainkan mampu mengkonstruksi atau membentuk kembali informasi yang masuk ke dalam dirinya secara lebih bermakna. Kebermaknaan pembelajaran dapat diciptakan dengan mengaitkan pengetahuan baru pada struktur pengetahuan yang sudah dimiliki peserta didik. Pengetahuan di tingkat yang lebih tinggi dikaitkan dengan hubungan prasyarat belajar atau subsumptive antar suatu pengetahuan dengan pengetahuan yang lebih inklusif. Ausubel seorang pakar pembelajaran menegaskan bahwa, “pengetahuan superordinate yang telah dimiliki peserta didik dapat bertindak sebagai “Kerangka Cantolan” dan dapat memudahkan perolehan pengetahuan baru yang akan dipelajari, memudahkan pengorganisasian ingatan, pengungkapan kembali apa yang telah disimpan dalam struktur kognitif yang terorganisir dengan baik, dan akhirnya membuat pengetahuan baru lebih bermakna sekalipun dalam hal tertentu semakin abstak.
Nyoman Sudana Degeng dan Yusufhadi Miarso (1993) mengemukakan setidaknya terdapat tiga langkah dalam melakukan analisis kemampuan awal untuk mengetahui kesiapan belajar peserta didik, yakni; (1) melakukan pengamatan kepada siswa secara perorangan untuk mengetahui konsep, prosedur, dan prinsip pembelajaran yang telah dikuasai peserta didik dengan menggunakan test kemampuan awal; (2) mentabulasi karakteristik perorangan peserta didik untuk mendapatkan klarifikasi guna memudahkan strategi pengelolaan pembelajaran; dan (3) membuat daftar karakteristik peserta didik sebagai dasar menemukan strategi pengelolaan pembelajaran yang sesuai dengan kemajuan pembelajaran secara perorangan.
Menutup opini ini, penulis ingin bertanya, terutama kepada diri sendiri dan para pendidik. Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, “Apakah telah memahami peserta didik yang sangat unik tersebut?” Jika sudah, syukur alhamdulillah. Jika belum, muncul pertanyaan berikutnya; Bagaimana mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran tanpa memahami peserta didik? Boleh jadi apa yang telah dikatakan terdahulu “Kejahatan Kemanusiaan” dilakukan oleh para pendidik sedang terjadi di ruang-ruang kelas.**
Diposting oleh norma lutfiyah di 08.18 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
KURANGNYA KESADARAN PESERTA DIDIK DALAM PROSES PENDIDIKAN
http://ariismanto.multiply.com/journal/item/19
KURANGNYA KESADARAN PESERTA DIDIK DALAM PROSES PENDIDIKAN
Pendidikan adalah hal sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal paling penting yang seharusnya di capai dalam pendidikan adalah perubahan pola berpikir peserta didik menuju pola pikir yang sestematis, dan efektif dalam mencapai apa yang menjadi tujuan peserta didik itu sendiri.
Peserta didik saat ini cenderung menggantungkan informasi pembelajaran kepada pendidik mereka, tidak lagi mandiri, aktif dan berinisiatif untuk mencari bahan atau informasi untuk mendukung pendidikannya. Kalaupun ada yang sibuk mencari buku atau info di internet/ media lainnya itupun sebagian besar karena hanya ingin menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pendidiknya. Para peserta didik seakan tidak menyadari bahwa pendidikan itu adalah untuk dirinya, membentuk pola pikirnya tetapi mereka hanya menganggap hal itu hanyalah sebagai syarat yang harus dilalui untuk mendapatkan selembar kertas ijazah/gelar.
Anggapan ini sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan pendidikan mereka. Pendidik tidak bisa menerapkan cara mengajar yang aktif dan konstruktif terhadap peserta didiknya. Mereka hanya melakukan cara mengajar dengan pola konvensional yang hanya memungkinkan transfer ilmu yang mereka miliki kepada peserta didik yang seakan akan tanpa melibatkan pesertanya dalam proses belajar tersebut. Kenapa?
Ya……...memang karena mereka cenderung hanya menerima apa yang diberikan pendidiknya, peserta seakan tidak siap untuk diajak berdiskusi dan bertukar pikiran karena mereka tidak mau belajar tentang apa yang seharusnya mereka pelajari dan hanya menunggu “diberi” ilmu oleh pendidiknya, mereka tidak menyadari bahwa pendidiknya juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan-keterbatasan tentang ilmu yang ia pelajari, sedangkan ilmu dan teknologi terus berkembang. Tanpa melakukan kajian yang lebih dari apa yang telah dipelajari dan dialami oleh para pendidiknya maka peserta didik dipastikan akan ketinggalan ilmu dan teknologi yang berkembang sekarang ini.
Dengan ilmu dan pengalaman yang diberikan oleh pendidiknya, seharusnya peserta didik bisa mengembangkan informasi yang diberikan sehingga dalam kegiatan belajar pendidik tidak lagi menerapkan cara-cara pendidikan konvensional tetapi lebih melibatkan peserta didik melalui pertukaran pendapat/diskusi. Pada akhirnya apa yang menjadi tujuan pendidikan dapat dicapai.
Diposting oleh norma lutfiyah di 08.17 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Andragogi, Pendidikan Untuk Pendewasaan
http://pelajarislam.wordpress.com/2007/10/23/andragogi-pendidikan-untuk-pendewasaan/
Andragogi, Pendidikan Untuk Pendewasaan
Rusydi hikamawan
Pada awalnya, pengetahuan tentang pendidikan (belajar) banyak diambil dari studi-studi yang dilakukan terhadap anak-anak dan hewan dalam belajar. Dari sini lahirlah istilah “paedagogi” yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani “paid” yang berarti anak-anak, dan “agogos” yang berarti memimpin. Dengan demikian, paedagogi secara khusus diartikan sebagai seni mengajar anak-anak. Namun pada perkembangannya, istilah paedagogi sering diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar/mendidik secara umum.
Sedangkan subyek pendidikan yang dihadapi sekarang adalah orang dewasa yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak dalam belajar. Metode belajar yang diterapkan pada orang dewasa hendaknya membantu mereka untuk belajar. Pendekatan ini kemudian disebut dengan “andragogi” yang berasal dari kata “andra” yang berarti orang dewasa. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan teori pendidikan dari Plato.
Untuk dapat lebih memperjelas pemahaman mengenai andragogi, dapat dilihat pada perbedaan mendasar antara asumsi yang dibangun dalam andragogi dengan yang dibangun dalam paedagogi, berikut ini:
a. Konsep diri
Konsep diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Namun pada saat ia menjadi dewasa, ia menjadi semakin sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Di samping itu, orang dewasa biasanya telah memiliki rasa tanggung jawab, baik terhadap dirinya mereka sendiri maupun terhadap orang lain. Perubahan konsep diri ini berimplikasi pada hubungan antara pendidik dengan peserta didik. Pada andragogi, hubungan tersebut lebih bersifat saling membantu. Sementara pada paedagogi, hubungan tersebut lebih didominasi (ditentukan) oleh pendidik dan bersifat mengatur peserta didik.
b. Pengalaman
Dari sisi pengalaman, orang dewasa lebih banyak mempunyai pengalaman daripada anak-anak. Oleh karena itu, dalam andragogi, pengalaman dinilai sebagai sumber belajar yang cukup kaya. Untuk dapat mendayagunakan pengalaman sebagai bahan belajar maka dalam proses pembelajaran digunakan teknik komunikasi dua arah, seperti: diskusi, permainan, simulasi, dan lain-lain. Sementara dalam paedagogi cenderung pada komunikasi searah, semacam: ceramah, kuliah, indoktrinasi, menguasai bacaan, dan sebagainya. Hal ini tidak lepas dari karakter anak-anak yang masih sedikit pengalaman sehingga perlu ‘diisi’ pengalaman baru oleh pendidik dengan cara di atas.
c. Arah belajar
Pendidikan sering dipandang sebagai upaya mempersiapkan peserta didik untuk masa depan. Pada andragogi, belajar lebih dipandang sebagai pemecahan masalah daripada pemberian pelajaran. Orientasinya adalah penemuan situasi yang lebih baik ataupun pengembangan terhadap kenyataan saat ini. Jadi, belajar dalam andragogi adalah memecahkan persoalan ‘hari ini’. Sedangkan dalam pada paedagogi, belajar lebih merupakan penyimpulan informasi yang dipelajari sekarang namun digunakan pada suatu hari kelak (bersifat jangka panjang). Itulah sebabnya ketika masih anak-anak, kita tidak pernah tahu untuk apa kita harus belajar matematika, bahasa, sejarah, agama, dan lain-lain. Kita baru merasakan manfaatnya setelah kita dewasa.
d. Kesiapan untuk belajar
Perbedaan mendasar yang lain adalah dalam proses pemilihan isi/materi pelajaran. Dalam andragogi, peserta didik yang memutuskan apakah yang hendak dipelajari sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian, tugas pendidik dalam andragogi adalah sebagai fasilitator, yaitu: mengidentifikasi kebutuhan peserta didik, serta membentuk program dan kelompok belajar sesuai minat peserta didik. Sedangkan dalam paedagogi, pendidik yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihan isi pelajaran serta waktu kapan diajarkan.
Dalam perkembangannya, muncul berbagai kritik mengenai andragogi sebagai sebuah teori belajar. Kritikan yang muncul sering bermuara pada keraguan apakah andragogi hanya untuk orang dewasa, ataukah untuk manusia secara umum. Hal ini bermula dari ketidaktegasan Knowles[1], selaku tokoh utama dalam gagasan andragogi, dalam mendefinisikan peserta didik. Ketidaktegasan tersebut disebabkan oleh keyakinannya bahwa andragogi lebih dari sekedar membantu orang dewasa belajar, tetapi andragogi juga dapat membantu bagaimana manusia belajar. Oleh karena itu, dia beranggapan bahwa andragogi memiliki implikasi yang baik dalam pendidikan anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Dalam hal ini, Pratt[2] menyatakan bahwa andragogi bukanlah merupakan teori pendidikan. Andragogi lebih bersifat preskriptif, yang mencoba merinci peranan peserta didik dan karakteristik pengajaran yang diharapkan. Dia juga menyampaikan bahayanya melibatkan pemikiran yang bersandar pada filsafat ke dalam bangunan teori yang menuntut adanya pengujian secara empirik. Munculnya kritik-kritik tersebut pada akhirnya mengarahkan para pemikir masalah pendidikan untuk tidak mempertentangkan antara andragogi dengan paedagogi. Sebagian ahli mencoba menggolongkannya sebagai teori belajar non-partisipatif dan teori belajar partisipatif (term ini nampaknya dipakai dalam Ta`dib- penulis). Ada juga yang mencoba mengklasifikasikan masalah tersebut dengan pendidikan yang berpusat pada isi (materi belajar) dan pendidikan yang berpusat pada peserta.Terlepas dari perdebatan di atas, asumsi-asumsi yang dibangun dalam andragogi akan banyak membantu kita memahami bagaimana suatu proses perubahan dikelola dalam suatu pelatihan dan pendidikan formal.
Diposting oleh norma lutfiyah di 08.15 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Upaya Mencegah Kecemasan Siswa di Sekolah
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/01/upaya-mencegah-kecemasan-siswa-di-sekolah/
Upaya Mencegah Kecemasan Siswa di Sekolah
Oleh : Akhmad Sudrajat
Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.
Adalah Sigmund Freud, sang pelopor Psikoanalisis yang banyak mengkaji tentang kecemasan ini. Dalam kerangka teorinya, kecemasan dipandang sebagai komponen utama dan memegang peranan penting dalam dinamika kepribadian seorang individu.
Freud (Calvin S. Hall, 1993) membagi kecemasan ke dalam tiga tipe:
1. Kecemasan realistik yaitu rasa takut terhadap ancaman atau bahaya-bahaya nyata yang ada di dunia luar atau lingkungannya.
2. Kecemasan neurotik adalah rasa takut jangan-jangan insting-insting (dorongan Id) akan lepas dari kendali dan menyebabkan dia berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum. Kecemasan neurotik bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang akan menimpanya jika suatu insting dilepaskan. Kecemasan neurotik berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas, jika dia melakukan perbuatan impulsif.
3. Kecemasan moral yaitu rasa takut terhadap suara hati (super ego). Orang-orang yang memiliki super ego yang baik cenderung merasa bersalah atau malu jika mereka berbuat atau berfikir sesuatu yang bertentangan dengan moral. Sama halnya dengan kecemasan neurotik, kecemasan moral juga berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas jika dia melakukan perbuatan yang melanggar norma
Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut traumatik, yang akan menjadikan seseorang merasa tak berdaya, dan serba kekanak-kanakan. Apabila ego tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional, maka ia akan kembali pada cara-cara yang tidak realistik yang dikenal istilah mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism), seperti: represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi. Semua bentuk mekanisme pertahanan diri tersebut memiliki ciri-ciri umum yaitu: (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan dan (2) mereka bekerja atau berbuat secara tak sadar sehingga tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Kecemasan dapat dialami siapapun dan di mana pun, termasuk juga oleh para siswa di sekolah. Kecemasan yang dialami siswa di sekolah bisa berbentuk kecemasan realistik, neurotik atau kecemasan moral. Karena kecemasan merupakan proses psikis yang sifatnya tidak tampak ke permukaan maka untuk menentukan apakah seseorang siwa mengalami kecemasan atau tidak, diperlukan penelaahan yang seksama, dengan berusaha mengenali simptom atau gejala-gejalanya, beserta faktor-faktor yang melatarbelangi dan mempengaruhinya. Kendati demikian, perlu dicatat bahwa gejala-gejala kecemasan yang bisa diamati di permukaan hanyalah sebagian kecil saja dari masalah yang sesungguhnya, ibarat gunung es di lautan, yang apabila diselami lebih dalam mungkin akan ditemukan persoalan-persoalan yang jauh lebih kompleks.
Di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga, sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru. Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman, serta sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas juga merupakan faktor-faktor pemicu terbentuknya kecemasan pada siswa.yang bersumber dari faktor manajemen sekolah.
Menurut Sieber e.al. (1977) kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan.
Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui:
1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.
2. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat mengembangkan “sense of humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau “joke” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.
3. Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break” tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif.. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya sangat diperlukan.
4. Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.
5. Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.
6. Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.
7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.
8. Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.
9. Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.
10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.
Melalui upaya – upaya di atas diharapkan para siswa dapat terhindar dari berbagai bentuk kecemasan dan mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikis, yang pada gilirannya dapat menunjukkan prestasi belajar yang unggul.
Diposting oleh norma lutfiyah di 08.13 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Rasa Cinta dalam Pendidikan
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/06/16/rasa-cinta-dalam-pendidikan/
Rasa Cinta dalam Pendidikan
Sebagai salah satu bentuk emosi individu, rasa cinta bisa hadir dalam subjek dan objek serta situasi yang beragam. Dalam pendidikan pun sebenarnya terdapat rasa cinta, baik yang dialami oleh guru, siswa, atau orang lainnya yang terlibat dalam pendidikan. Sebagai perwujudan dari sikap profesionalnya, selain dituntut untuk dapat memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan yang digelutinya, seorang guru juga penting untuk dapat memiliki rasa cinta terhadap peserta didiknya. Bentuk manifestasi cinta guru terhadap peserta didiknya tentunya berbeda dengan bentuk manifestasi jenis cinta lainnya, seperti cinta erotis, cinta Tuhan, atau cinta orang tua. Walau pun dalam kasus-kasus tertentu didapati tumpang tindih dalam mewujudkan rasa cintanya, dimana kecintaan terhadap peserta didik berubah menjadi cinta erotis, yang tentu saja menjadi sangat berbeda dan bertolak belakang dari makna yang sesungguhnya.
Perasaan cinta guru terhadap seluruh peserta didiknya merupakan hal yang amat penting dan dianggap sebagai alat utama dalam pendidikan. Hal yang menjadi tragis ketika para pendidik senantiasa disibukkan dan dituntut untuk menguasai bahan ajar atau mengembangkan metode dan teknologi pembelajaran tertentu, tetapi mereka justru melupakan pentingnya rasa cinta terhadap peserta didik. Penguasaan bahan ajar dan metode dan teknologi pembelajaran oleh guru memang penting, tetapi jika proses pendidikan harus melupakan aspek cinta sebagai alat utamanya maka pendidikan akan terasa menjadi kering dan kehilangan ruhnya.
Mungkin kita bertanya, kenapa mahasiswa berdemo secara anarkis? Kenapa ada sekelompok siswa perempuan membentuk gank yang menebarkan kebencian? Kenapa ada orang berpendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana, tetapi mereka justru menimbulkan kesengsaraan kepada banyak orang melalui perilaku korupsinya? Tampaknya disinilah pentingnya pendidik untuk dapat mengembangkan rasa cintanya secara konstruktif dalam berhubungan dengan siswanya, yang diwujudkan dalam bentuk rasa empati, memperhatikan kebahagiaan, kesejahteraan dan perkembangan dari para peserta didiknya, melakukan berbagai upaya dan turut membantu para peserta didiknya untuk mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemajuan.
Melaui proses pendidikan yang didasari rasa cinta, pada gilirannya selain dapat mengantarkan seseorang memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, meraih kedudukan yang terhormat dan kekayaan yang melimpah, juga diharapkan dapat membelajarkan kepada peserta didiknya untuk mengenal dan memiliki rasa cinta, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi sosok -manusia yang penuh kecintaan, baik terhadap dirinya, sesamanya dan Tuhannya.
Diposting oleh norma lutfiyah di 08.11 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Tips Mengatasi Anak Nakal
http://apakabarpsbg.wordpress.com/2008/11/25/tips-mengatasi-anak-nakal/
Tips Mengatasi Anak Nakal
Ditulis pada Nopember 25, 2008 oleh sunartombs
Pendidikan yang utama dan pertama dalah keluarga. Dengan lingkungan keluarga akanterbentuk sifat, watak dan perilaku misalkan dalam sebuah keluarga orang tua kurang perhatian terhadap anak, maka anak tersebut akan menjadi nakal (kurang terkontrol) demikian juga sebaliknya klau lingkungan itu baik ada perhtian orang tua maka anak akan tumbuh dengan baik.
Dalam mendidik ank kita harus mengetahui sifat-sifatnya misalkan anak yang mempunyai sifat pendiam kita dekati dengan halus sehingga anak tersebut mau bercerita tentang masalah yang terjadi, berarti kita menggunakan cara yang halus untuk menghadaopinya. Lain lagi dengan anak yang mempunyai sifaf keras, kita harus mengahdapinya dengan tegas dan keras.
Selain kita melihat darilingkungan keluarga dan sifat anak, kita harus melihat kelatarbelakang dari keluarganya, jika dalam keluarga tersebut mempunyai latarbelkang yang baik maka secra otomatis anaknya akan meniru yang baik tetapi sebliknya, jika dalam keluarga tersebut mempunyai latar belakang yang kurang baik maka anaknya akan mengikuti tidak baik pula.
Adapun untuk mengatasi anak didik yang nakal ada beberapa macam cara :
1). Didekati sebagai teman
2) Diberi desempatan untuk bercerita
3 ) Diajarai sifat tanggung jawab
Untuk membiasakan anak bertanggung jawab haruslah dimulai sejak kecil, tanpa dibiasakan sejak kecil tidak mungkin anak mempunyai rasa tanggung jawab. Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan :
1) Biasakan anak mengambil dan mengembalikan maiananya sendiri
2) Biaskan anak untuk melakukan tugas-tugas ringan sejak kecil
3) Bisakan anak untuk menjagakebersihan
4) Bila nakal tegurlah
5) Bila melakukan kesalahan dengan orang lain biasakan untuk minta maaf
6) Biasakan untuk mengucapkan terimakasih bila ditolong atau diberi sesuatu oleh orang lain.
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.49 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Rabu, 13 Mei 2009
Tim Antarmuka ITB Juara
Tim Antarmuka ITB Juara
PARIS, KOMPAS - Tim Antarmuka Institut Teknologi Bandung dengan sistem desain piranti lunak (software) Butterfly dipilih empat juri internasional menjadi pemenang Imagine Cup 2008 untuk kategori Rural Innovation Award. Pengumuman pemenang dilakukan dalam sebuah acara yang dihadiri ribuan undangan di Louvre, Paris, Perancis, Selasa (8/7). Tim Antarmuka ITB mengalahkan empat finalis, yaitu dari Kolombia, Mesir, India, dan Afrika Selatan. Pengumuman juara kategori Rural Innovation Award disampaikan Corporate Vice President Unlimited Potential Anoop Gupta dalam suasana gegap gempita.
Empat anggota Tim Antarmuka yang selalu mengenakan batik berlari ke panggung mendengar nama timnya diumumkan sebagai juara. Tepuk tangan riuh ribuan undangan, umumnya pelajar, dari seluruh dunia mengantar mereka menuju panggung.
”Senang sekali menang di Imagine Cup. Ini sejarah baru bagi Indonesia. Kami berharap, sistem ini bisa digunakan untuk negara- negara yang membutuhkan, tidak hanya Indonesia,” ujar Arief Widhiyasa, pemimpin proyek Butterfly Tim Antarmuka ITB.
Tim beranggotakan tiga mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB dan seorang mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Mereka adalah Arief Widhiyasa, Ella Madanella, Dimas Yusuf Danurwenda, dan Erga Ghaniya. Mereka didampingi Dwi Hendratmo Widyantoro, dosen STEI ITB.
Empat juri Rural Innovation Award adalah Paul Polak, pendiri International Development Enterprises; Edward Grager-Happ, Chief Information Officer Save the Children; Kentaro Toyama, Assistant Managing Director Microsoft Research India; dan Netika Raval, pendiri Global Social Equity.
Imagine Cup 2008 diikuti lebih dari 200.000 pelajar dari lebih dari 100 negara. Final diikuti 370 pelajar dari 61 negara yang memperebutkan total hadiah uang tunai 240.000 dollar AS.
Sistem Butterfly adalah sistem pelaporan yang memungkinkan siapa pun secara segera dapat melaporkan masalah lingkungan lewat suara, aplikasi mobile, dan web ke sistem itu. Sistem ini menggarap hingga respons dari pihak otoritas dapat diakses publik. ”Agar mudah dan murah diakses, kami mensyaratkan sistem ini gratis bagi pelapor. Itu perlu kerja sama antara penyedia layanan telekomunikasi dengan pemerintah,” ujar Ella.
”Kami bangga nama Indonesia dikenal luas karena kemenangan ini. Semoga ini jadi motivasi pelajar lain di Indonesia,” ujar Arif yang merinding mendengar Indonesia disebut. Tim Antarmuka ITB menerima hadiah uang tunai 10.000 dollar AS dan kesempatan bergabung dengan para peneliti di Microsoft Research Center di Bangalore, India, untuk mengembangkan sistemnya secara luas ke seluruh dunia.
*NOTE: Dimas Yusuf Danurwenda adalah salah satu penerima beasiswa Sampoerna Foundation, Intake 2005.
http://www.sampoernafoundation.org/content/view/1264/279/lang,id/
Diposting oleh norma lutfiyah di 07.14 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
Rabu, 15 April 2009
KIAT MENANGKAL PELANGGARAN KETERTIBAN SEKOLAH
KIAT MENANGKAL PELANGGARAN KETERTIBAN SEKOLAH
Judul: KIAT MENANGKAL PELANGGARAN KETERTIBAN SEKOLAH
Nama & E-mail (Penulis): MOHAMMAD ARIFANA, M.PD
KIAT MENANGKAL PELANGGARAN KETERTIBAN SEKOLAH
Ketertiban siswa sering kali kita dengar sebagai suatu masalah di sebuah sekolah , apalagi pada jenjang sekolah menengah yang siswa- siswanya beranjak dewasa dan mulai belajar mengenal jati diri pribadinya.dimana siswa sering melakukan pelanggaran di sekolah. Kondisi yang tidak menguntungkan dan cukup memprihatinkan ini, sekolah secara umumnya membentuk Tim Ketertiban Sekolah agar sekolah menjadi lebih baik. Namun sering kali tidak efektif dan mengalami banyak halangan serta hambatan dilapangan. Selain harus mengeluarkan dana tambahan dengan membentuk tim ketertiban, namun sering kali tidak efektif karena tidak didukung oleh guru- guru yang lainnya dan keterbatasan guru serta kepeduliannya kurang terhadap siswa.
Siswa secara psikologis menurut Mulyani (1988) pada umur 12 - 18 tahun dimana perkembangan anak digolongkan sebagai remaja yang mempunyai keinginan baru dan membutuhkan sarana aktivitas yang lebih untuk menumpahkan segala kegiatannya sehingga dengan minimnya sarana dan prasarana mudah membuat siswa akhirnya dapat menimbulkan permasalahannya dari ketertibannya.
Input siswa yang serba kekurangan yang merupakan sisa dari sekolah- sekolah favorit dimana sekolah yang tidak favorit menjadi tempat pelimpahan dari siswa yang perilaku siswanya sering tidak masuk katagori baik akhirnya menjadi masalah ketertiban sekolah semakin meningkat.
Peran orang tua dalam hal kepedulian ketertiban sekolah sangat besar dalam pembentukan psikologis siswa karena waktu yang dipergunakan lebih banyak di rumah dan lingkungannya. Pergaulan serta teman bermain sangat menentukan perkembangan anak. Pengawasan masyarakat dan kontrol umpan balik masyarakat sangat diperlukan mengingat perilaku siswa diluar sekolah melambangkan kualitas penanganan sekolah tersebut..
Apalagi dalam situasi keluarga pasca modern dengan kesibukan kedua orang tuanya sehingga mereka tidak mampu mengawasi anaknya dengan baik. akan membawa dampak terhadap pelanggaran ketertiban di sekolah. Menurut Anita ( 1996) hal ini disebabkan banyaknya suami istri bekerja sama- sama mencari nafkah, angka perceraian tinggi, sejumlah keluarga diasuh satu keluarga saja sehingga anak diasuh oleh pembantu atau lebih tepatnya dibesarkan pembantu.
Sebagai langkah awal dalam upaya untuk menanggulangi upaya ketertiban yaitu
1.Meningkatkan disiplin anak & sedikit demi sedikit mengurangi indisipliner pembelajaran
2.Mewujudkan kinerja sekolah.yang dinamis, mengasyikkan, menyenangkan & mencerdaskan
3.Mengadakan antisipasi dalam mengatasi berbagai hal dalam proses pembelajaran.
Menurut Nursisto (2002) ada beberapa langkah yang dapat digunakan dalam upaya mengatasi ketertiban sekolah dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan ketertiban yang ada di sekolah.
a. Langkah strategis mencegah siswa yang suka mencoret- coret .
1. Menggalakkan pelaksanaan kegiatan 6 K.
2. Tempat duduk siswa sesuai dengan denah yang telah ditentukan.
3. Sebulan sekali diadakan bersih lingkungan sekolah termasuk didalam kelas.
4. Setiap satu satu semester dilakukan kerja bakti massal sekolah.
5. Dicantumkan sanksi bagi pelaku corat coret didalam tata tertib sekolah.
6. Dalam suatu kesempatan tertentu diberikan tugas oleh guru agar siswa membuat karangan bertemakan corat coret.
7. Satu atau dua menit setiap jam pelajaran berlangsung, guru memeriksa lingkungan didalam kelas.
8. Dilaksanakan lomba kebersihan dan keindahan kelas dalam setiap event kegiatan sekolah.
9. Bila tingkat kesadaran para siswa sudah tumbuh, piket membersihkan ruangan dilakukan siang hari.
b. Langkah mencegah Siswa membawa alat main dan buku porno.
1. Sering dilakukan rasia dengan tiba- tiba. Tim ketertiban secara mendadak masuk dalam semua kelas serentak dan isi tas satu persatu diperiksa dengan teliti.
2. Menyita barang terlarang yang kedapatan di dalam tas atau tersimpan dalam meja siswa
3. Ketika sedang mengajar guru memperhatikan kondisi siswa.
4. Ketika mengajar guru sesekali memberikan pertanyaam kepada siswa.
5. Posisi guru mengajar jangan hanya selalu didepan kelas, kadang kala di belakang kelas.
6. Mencantumkan pelarangan membawa barang yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran.
7. Guru BP diaktifkan peranannya agar jangan melakukan hal- hal terlarang tadi.
c. Langkah mencegah Siswa merokok dan membawa narkoba lebih pelik dibandingkan keduanya, langkahnya sebagai berikut :
1. Dilakukan penggeledahan isi tas siswa.
2. Secara khusus sekolah melakukan pengawasan kepada beberapa siswa yang patut dicurigai.
3. Pihak sekolah melakukan kerja sama dengan pihak- pihak lain di luar sekolah misalnya warga sekitarnya, kepolisian dan pemerintah setempat.
4. Memberikan laporan secepatnya kepada orang tua apabila siswa terjadi tanda- tanda menggunakan rokok dan narkoba.
5. Diadakan ceramah penyuluhan tentang bahaya merokok atau mengkonsumsi narkoba oleh pihak yang berkompetensi.
6. Perlunya dikembangkan budi pekerti yang dikaitkan dengan pelajaran agama.
7. Orang tua mengisi surat pernyataan bahwa bila ternyata anaknya terlibat pelanggaran merokok dan narkoba sanggup dikeluarkan.
d. Langkah mencegah perkelahian siswa dilingkungan sekolah maupun luar sekolah.
1. Sekolah menyediakan media penyaluran bakat dan minat siswa sehingga mampu menyalurkan energinya yang secara berlebihan lewat kegiatan ekstra kurikuler yang diadakan sekolah.
2. Dibentuknya tim- tim olah raga dan seni di bidang- ekstra kurikuler.
3. Pembuatan program- sekolah dengan memberi peluang untuk siswa agar mampu menuangkan prestasi dan hasil seninya.
4. Perlunya kerjasama dengan pihak pengurus OSIS yang ada di lingkungan sekolah lainnya dalam upaya agar kalau terjadi sesuatu hal maka dapat menjadi penengah.
5. Dilakukan program bersama dan kegiatan terpadu dalam kegiatan pengurus OSIS yang ada dilingkungan sekolah lainnya pada saat momen yang tepat.
e. Langkah mencegah siswa tidak menggunakan seragam dan kelengkapan dengan baik
1. Guru meluangkan waktu sebentar untuk mengingatkan da menegur siswanya disetiap awal pelajaran dimulai terutama jam pertama pelajaran agar selalu menggunakan pakaian secara baik.
2. Adanya kontinuitas dari petugas BP dan Tim ketertiban agar melakukan penertiban seragam yang tidak sesuai ketentuan.
3. Melakukan razia secara mendadak dengan menertibkan siswa yang bajunya tidak sesuai dengan ketentuan.
4. Mencantumkan sanksi bagi siswa yang tidak menggunakan seragam sesuai ketentuan didalam tata tertib sekolah.
f. Langkah dalam membuat tabel point disiplin siswa.
1. Diperlukan komitmen dari guru dan siswa mengenai apa saja yang dapat dijadikan ukuran dalam meningkatkan disiplin sekolah serta disepakati bersama dalam tabel point disiplin siswa.
2. Diperlukan sosialisasi ke siswa dan orang tua berkaitan tabel point kedisplinan siswa di sekolah.
3. Orang tua mengisi surat pernyataan bahwa bila ternyata anaknya terlibat pelanggaran point kedisplinan sekolah dan sanggup dikeluarkan.
4. Diberikan reward penghargaan bagi siswa dan kelas yang point melanggarnya rendah.
5. Adanya kontinuitas dari petugas BP dan Tim ketertiban agar melakukan evaluasi kegiatan berkaitan dengan tabel point kedisplinan siswa.
6. Mengumumkan secara kontinu siswa dan kelas yang mempunyai point kedisplinan yang tertinggi dan terendah.
Didalam upaya ketertiban siswa di sekolah, tidak hanya siswa saja yang dijadikan obyek yang selalu disalahkan namun diperlukan juga manajemen sekolah yang baik agar dalam pelaksanaan ketertiban sekolah dapat berjalan dengan baik.
Langkah- Langkah yang dilakukan sekolah berkaitan dengan ketertiban sekolah.
1. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara baik.
Sering kali pelanggaran ketertiban siswa muncul diawalai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang kurang baik dan sistem inval dari guru piket tidak berjalan secara baik, apabila guru tidak masuk karena sesuatu hal maka sering kali kelas kosong dan tidak ada pengawasan dari guru. Sehingga diperlukan suatu system kerjasama antara pihak- pihak yang ada di sekolah baik guru, siswa , orang tua dan kepala sekolah sebagi manajer disekolah dapat dilakukan secara baik
2. Penuntasan Peserta Didik Bermasalah.
Dengan menangani anak didik yang bermasalah secara tuntas dengan segera maka dapat mencegah timbulnya masalah- masalah yang semakin banyak dan menumpuk sehingga tertanganinya anak didik bermasalah secara baik pula. Disini peran petugas BP dan wali kelas sangat besar dalam upaya membina anak didiknya dikelas
3. Pembinaan Keimanan & Ketaqwaan (Imtaq).
Dalam membangun Imtaq siswa tidak hanya beban dari orang tua saja namun diperlukan kerjasama antara sekolah, orang tua dan masyarakat sekitarnya. Perpijak dari hal tersebut baik orang tua, sekolah dan masyarakat melakukan pengawasan dan pengendalian agar mampu membina siswa dengan melakukan kegiatan keagamaan di sekolah dan dimasyarakat bila perlu dikembangkan MPMBI (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Imtaq) di sekolah.(Tirto Adi: 2002)
Hal hal yang perlu dikembangkan dalam upaya meningkatkan ketertiban sekolah terhadap :
a. Siswa .
Dengan mendukung terwujudnya visi, misi sekolah yang aman dan adil. Sebahagian siswa yang acuh tak acuh dilibatkan peranannya dalam kegiatan disekolah. Dan dikembangkan pada siswa semangat dan merasa bangga punya disiplin poin yang rendah
b. Guru.
Guru mendukung dalam menjalankan disiplin yg komprehensif dan diperlukan sosialisasi dalam hal ketertiban sekolah bagi guru yang masih belum memahami esensi yg sebenarnya. Perlu dikembangkan perasaan bangga karena anak didik tunjukkan sikap disiplin yg dikehendaki dan meningkatkan motivasi dalam hal menangani anak bermasalah.dan tidak menjadi beban terhadap diri-sendiri.
c. Orang tua dan Masyarakat
Mendukung sekolah.yang punya disiplin sekolah yang seperti ini. Untuk sebahagian masih ada yang kurang mengerti diperlukan sosialisasi agar mengerti perlunya ketertiban di sekolah. Dikembangkan rasa bangga karena ada perubahan pada sikap anak mereka setelah anaknya dibina di sekolah serta meningkatkan keterlibatannya di sekolah.
Diposting oleh norma lutfiyah di 05.23 0 komentar
Label: Manajemen Peserta Didik
