SEPUTAR DUNIA KAMPUS
Dunia kampus, dunia di mana saat ini kita sedang bergelut di dalamnya mencari sebuah misteri masa depan yang telah menanti dihadapan kita semua. Kampus dan mahasiswa adalah entitas yang memiliki korelasi satu sama lain. Mahasiswa sebagai stakeholders yang nota bene sebagai penikmat pendidikan adalah sosok intelektualis yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan sementara kampus sebagai sebuah lembaga penyelenggara serta sebagai ujung tombak pendidkan formal.
Perguruan tinggi (kampus) adalah landasan akhir kita dalam menyelesaikan studi pendidikan formal kita. Disanalah yang dulunya memilki predikat sebagai siswa namun setelah menjadi stake holders kampus predikat itu berubah menjadi mahasiswa. Sunguh suatu perubahan yang sangat signifikan dan historis. Bagai sebagain besar orang perguruan tinggi merupakan sebuah taman impian yang di dalamnya berisi impian yang menjanjikan. Perguruan tinggi memberikan harapan akan masa depan walaupun masa depan itu adalah sebuah misteri yang tidak diketahui oleh setiap orang hanya sang khaliq yang mengetahuinya. Namun, karena melihat realitas bahwa kebanyakan lulusan perguruan tinggi memiliki kedudukan yang tinggi , status social,serta kehidupan yang layak.
Berbicara masalah pendidikan, setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Di perguruan tinggi pendidikan dan kebijakan yang ada di kampus berada ditangan para birokrat yang nota bene sebagai penyelenggara pendidikan dan yang mengatur jalannya pendidikan di lingkungan kampus. Dalam tingkatan kenegaraan, kampus sebagai sebuah Negara dan para birokratis sebagai aparatur Negara. Kedudukan mahasiswa dalam birokrasi kampus adalah sebagai sosok yang memiliki kepribadian ganda, kadang-kadang sebagai pihak yang mendukung sepenuhnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kampus, kadang-kadang pula menjadi pula menjadi sebuah sosok yang bener-benar tidak menyetujui sepenuhnya kebijakan-0kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kampus. Mahasiswa sebagai sebuah agen yang menentukan keberhasilan sebuah perguruan tinggi.
Para birokrat seyogyanya mengatur semua kebijakan-kebjakan kampus brdasarkan relitas yang terjadi dilingkungan kampus atau berdasarkan situasi dan kondisi baik mahasiswa maupun seluruh aspek yang berkorelasi dengan penentu semua kebijakan yang ada. Seperti yang kita lihat sekarang ini para birokrat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang isinya berupa kewajiban-kewajiban yang harus atau mesti dilaksanakan oleh pihak birokrat ataupun semua elemen kampus, namun dalam implementasinya kebijakan-kebijakan itu dilaksanakan tidak sesuai dengan aturan atau hal-hal yang telah ditentukan. Malahan sangat menyimpang dengan kebijakan-kebijakan yang telah diberlakukan.
Begitu banyak problem yang terjadi di lingkungan kampus, baik ditingkat institusi maupun ditingkat mahasiswa. Ditingkat institusi masalah-masalah yang sering muncul yaitu masalah penentuan kebijakan. Manakala, kebijakan itu harus tepat sasaran bagi seluruh warga kampus juga harus digunakan sebagai pedoman dalam sebuah universitas, ternyata kebijakan itu dianggap sebagai sebuah hal yang pada penerapanya sebagai sebuah formalitas belaka, sehingga membuat para warga kampus memilih melaksanakan kebijakan yang berdasarkan sikap individualisme yang berasaskan ego masing-masing. Sehingga hal itu tidak jarang menimbulkan sebuah masalah besar yang berujung pada sebuah intervensi dari pihak-pihak yang memanfaatkan momen tersebut untuk menjalankan niat busuk mereka akibatnya timbullah perselisihan-perselisihan yang sangat sukar untuk dihentikan.
Terjadi begitu banyak penyimpangan dalam birokarasi sebuah kampus. Baik penyimpangan yang sifatnya tersirat ataupun penyimpangan yang sangat jelas terjadinya. Saya kira hal itu bukan hal yang asing bagi kita khususnya mahasiswa. Contoh kasus misalnya perebutan kekuasaan dilembaga tinggi kampus yang kadang-kadang mengorbankan mahasiswa serta para tenaga pendidik sebagai pasukan untuyk menjalankan aksi mereka dalam perebutan kekuasaaan tersebut. Kadang-kadang mahasiswa dijadikan kambing hitam dalam setiap aksinya. Dilingkungan kampus sering dijadikan sebagai arena politik oleh para birokrat kampus begitu banyak permainan-permainan politik yang dilakukan secara terang-terangan maupun secara tersirat dan kadang-kadang mahasiswa dijadikan sebagai player di dalamnya.
Selain penyimpangan-penyimpangan yang terjadi juga begitu banyak problema dari sisi manajemen dan pengaturan pendidikan di dalam lingkungan kampus misalnya, masalah manajemen sarana dan prasarana di kampus merupakan masalah yang sangat urgen yang harus diperhatikan oleh piihak kampus karena sarana dan prasarana merupakan kebutuhan pokok para warga kampus. Menyinggung masalah sarana-dan prasarana berarti menyangkut apek-aspek tentang perelengkapan dan kebutuhan kampus. Namun, kadang-kadang saran dan prasaran yang telah disediakan oleh pihak kampus disalahgunakan oleh para warga kampus yang nota bene sebagai pengguna dan penyedia sarana dan pra sarana tersebut.
Masalah manajemen tenaga pendidikan, masalah ini menyangkut kinerja tenaga pendidik. Tenaga pendidik adalah orang-orang yang mempunyai kewajiban penuh terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar DiPerguruan Tinggi. Mereka adalah para pendidik resmi dilingkungan kampus. Namun dalam impementasinya, kadang-kadang pendidik lebih mementingkan kepentingan eksternal yang tidak memiliki korelasi dengan statusnya sebagai tenaga pendidik ketimbang mahasiswa yang membutuhkan motivasi serta ilmu pengetahuan dari sang pendidik. Mungkin menurut mereka bahwa sekarang ini adalah era otonomi pendidik atau dosen jadi seolah-olah mereka memiliki kewenangan khusus. Okelah masalah kewenangan khusus adalh hak setiap pendidik. Namun, kewajiban mereka sebagai pendidik jangan disalah artikan, dan jangan dinomor duakan. Sehingga dengan hal tersebut mahasiswa menjadi diterlantarkan akibat ulah sang pendidik tersebut. Disinilah mahasiswa awalnya mahasiswa menjadi seorang pembangkang.
Masalah bantuan operasional kampus, masalah ini juga tidak kalah pentinggnya dengan masalah manajemen tenaga pendidik. Setiap orang pasti membutuhkan yang namanya bantuan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Pihak birokrat telah mengeluarkan syarat-syarat tentang bantuan tersebut namun kadang-kadang syarat-syarat yang dikeluarkan tidak sesuai dengan perekrutan mahasiswa yang meperoleh bantuan operasional tersebut, hal ini dilakukan bukan dari orang lain melainkan dari para pembuat kebijakan yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan melandaskannya dengan politik kekeluargaan. Sehingga bantuan operasional tersebut tidak sampai pada orang-orang yang tepat melainkan sampai pada orang-orang yang tidak memenuhi syarat dalam pemerolehan bantuan operasional tersebut.
Jadi dari masalah-masalah yang telah kami paparkan diatas merupakan masalah-masalah yang sudah sangant lumrah terjadi di sebuah Perguruan Tinggi.kita tidak dapat memungkiri hal tersebut namun, bagaimana kita harus mencegah masalah itu berkembang kembali. Oleh karena itu disinilah dibutuhkan adanya kerja sama yang erat antar birokrat dan mahasiswa serta seluruh elemen yang ada di dalm kampus untuk bersama mencari akar permasalah yang telah terjadi serta melepaskan segala hiruk pikuk yang menyelimuti atmosfer sebuah kampus, agar bagaiman semua masalah yang telah terjadi, tidak terjadi kembali atau masalah-masalahtersebut bisa dimaksimalkan agar dalam proses manajemen dan penentuan otonomi kebijakan-kebijakan kampus bisa terlaksana dengan baik dan berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan kita semua.
Rabu, 13 Mei 2009
SEPUTAR DUNIA KAMPUS
Diposting oleh norma lutfiyah di 06.11
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar